Elemen Jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
Sembilan Elemen Jurnalisme
Dari
segi kata, jurnalisme berasal dari kata “jurnal” dan “isme”. Jurnal artinya
laporan, isme artinya paham atau ajaran. Jurnalisme artinya pandangan atau paham
persuratkabaran. Isme artinya pandangan, seumpama muka omongan nasionalisme, semangat
kebangsaan dan lain-lain. Secara bahasa praktis, nyaris tidak kedapatan beda sela
pengenalan persuratkabaran dan jurnalisme hakikatnya sama. Secara harafiah, pengenalan
jurnalisme (berpunca berpokok omongan journal) yaitu kritik surat kabar atau kritik
perihal kasus sehari-hari. Jurnalisme menemukan
kalender yang bergandengan kalender menjelang mengejar dan menekel petunjuk menjelang
disiarkan ke khalayak. Dalam perkembangannya, jurnalisme berperan semacam penghidupan
yang dilakukan oleh seorang yang beroperasi muka cara massa. Di bagian dalam penghidupan
dibutuhkan lingkungan dan pekerjaan sepaham pakai keahliannya sehingga famili
itu mendapat imbalan (Nurudin, 2009 : 9).
Jurnalisme
adalah seni dan profesi dengan tanggung jawab profesional art and craft with
professional respondsibilities yang mensyaratkan wartawannya melihat dengan
mata yang segar eyes that see pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek
yang unik. Jurnalisme bukanlah tentang menulis saja. Anda belajar tentang “apa
sesungguhnya mencari itu 10 dan apa sebenarnya bertanya mengenai hal-hal pelik
dengan kegigihan” (Luwi, 2011 : 17). Seorang jurnalis mencari atau mendapatkan
informasi dari segala penjuru untuk mendapatkan berita yang terbaik. Dengan
kepiawainnya jurnalis juga mendapatkan informasi dari tokoh masyarakat,
Instansi pemerintah, Humas, Lembaga Swadaya Masyarakat dan sebagainya (Andi,
2011 : 83).
Bill Kovach
dan Tom Rosenstiel membuat riset bahwa ada sembilan elemen jurnalisme yang setidaknya
harus dikuasai oleh para wartawan, sembilan elemen jurnalisme tersebut antara lain :
1. Journalism's first obligation is to the truth. Kewajiban jurnalisme pertama adalah (berpihak) pada
kebenaran.
2. Its first loyalty is to the citizens. Loyalitas (kesetiaan) pertamanya kepada warga
(publik)
3. Its essence is discipline of verification. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Its practitioners must maintain an independence from
those they cover. Para praktisinya
(jurnalis/wartawan) harus menjaga independensi dari objek liputannya.
5. It must serve as an independent monitor of power. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau
independen kekuasaan. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk
saling-kritik dan menemukan kompromi.
6. It must provide a forum for public criticism and compromise. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk
saling-kritik dan menemukan kompromi.
7. It must strive to make the significant interesting,
and relevant. Jurnalis harus
berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan.
8. It must keep the news comprehensive and proportional. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan
proporsional.
9. Its practitioners must be allowed to exercise their
personal conscience. Jurnalis harus
diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.
Penjelasan
mengenai sembilan elemen jurnalisme tersebut :
1.
Kebenaran
Prinsip
Pertama dan Paling Membingungkan Elemen pertama dalam jurnalisme adalah
“Kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran.” Semua orang setuju bahwa
wartawan harus menyampaikan kebenaran. Namun orang berselisih paham tentang apa
yang dimaksud dengan “kebenaran”. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 38) Keinginan
agar informasi merupakan kebenaran adalah elementer. Berita adalah materi yang
digunakan orang untuk mempelajari dan berpikir tentang dunia di luar diri
mereka, maka kualitas terpenting berita adalah bisa digunakan dan diandalkan.
Singkat kata, kebenaran menciptakan rasa aman yang tumbuh dari kesadaran
seseorang, dan kebenaran inilah yang menjadi intisari sebuah berita. (Kovach
& Rosenstiel, 2003: 39).
2.
Untuk Apa Wartawan Bekerja?
Elemen
jurnalisme yang kedua adalah “Loyalitas pertama jurnalisme kepada warga.”
Komitmen kepada warga lebih besar ketimbang egoisme profesional. Kesetiaan
kepada warga ini adalah makna dari yang kita sebut independensi jurnalistik.
Wartawan punya andil terhadap timbulnya kesulitan yang mereka hadapi sendiri
dengan meneruskan kebingungan ini kepada publik, dan bisa dimengerti bila
hasilnya membuat warga menjadi skeptis, bahkan marah. (Kovach & Rosenstiel,
2003: 59) Tetap saja, pemikiran bahwa wartawan melayani warga pada urutan
teratas masih dipercaya oleh banyak wartawan. Dalam survei tentang nilai-nilai
jurnalisme, lebih dari 80% responden menempatkan “kewajiban pertama adalah
kepada pembaca/pendengar/pemirsa” sebagai “prinsip inti jurnalisme. (Kovach
& Rosenstiel, 2003: 59-60)
3.
Jurnalisme Verifikasi
Eleman
jurnalisme ketiga adalah “Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.” Pada
akhirnya, disiplin verifikasi adalah ihwal yang memisahkan jurnalisme dari
hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Hanya jurnalisme yang sejak awal
berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi setepat-tepatnya. (Kovach &
Rosenstiel, 2003: 87).
Wartawan
sering gagal menghubungkan perasaan terdalam yang mereka hayati tentang
keahlian ini dengan filosofis mengenai jurnaisme. Mereka tahu bagaimana
mengecek suatu berita. Tapi mereka tak selalu bisa mengungkapkan dengan fasih
peran yang dimainkan pengecekan suau berita di masyarakat. Namun, verifikasi
selalu berada di dalam fungsi pokok jurnalisme. Seperti yang dikatakan Walter
Lippmann (Kovach & Rosenstiel, 2003: 88), sebuah komunitas tak bisa merdeka
bila kekurangan informasi, karena dengan informasi yang cukup kebohongan bisa
dideteksi.”
Kini,
budaya pers modern umumnya kian melemahkan metodologi verifikasi wartawan.
Teknologi adalah sebagian besar penyebabnya. “Internet dan Nexis memberikan
wartawan akses mudah kepada berita dan kutipan mereka perlu melakukan
investigasi mereka sendiri,” ujar wartawan Geneva Overholser. (Kovach &
Rosenstiel, 2003: 92).
Saat
wartawan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencari data dari internet atau
bisnis data, resikonya adalah mereka bisa menjadi kian pasif, lebih Universitas
Sumatera Utara menjadi penerima ketimbang pengumpul. Untuk melawan ini,
pemahaman yang lebih baik tentang makna asli objektivitas bisa membantu menemp
4.
Independensi dari Faksi
Elemen
jurnalisme keempat yaitu “Wartawan harus tetap independen dari pihak yang
mereka liput.” Dalam beberapa hal, prinsip keempat ini lebih berakar dalam
pragmatisme ketimbang teori. Seseorang mungkin membayangkan bahwa wartawan bisa
melaporkan sekaligus menjadi peserta dalam peristiwa tersebut, tapi realitasnya
menjadi peserta mengaburkan semua tugas lain yang harus dilakukannya. (Kovach
& Rosenstiel, 2003: 123).
Independensi
semangat bahkan menjangkau penulisan opini yang tidak ideologis, karya seni
kritikus dan peresensi. Kebebasan berbicara dan kebebasan pers bermakna
keduanya adalah milik semua orang. Komunikasi dan jurnalisme bukanlah istilah
yang bisa saling dipertukarkan. Siapa saja bisa menjadi wartawan. Namun tidak
semuanya sungguh-sungguh wartawan. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 124).
5.
Memantau Kekuasaan dan Menyambung Lidah yang
Tertindas
Elemen
jurnalisme kelima adalah “Wartawan harus bertindak sebagai pemantau independen
terhadap kekuasaan.” Prinsip ini sering disalahpahami dengan mengartikan
sebagai “susahkan orang yang senang.” Lebih lanjut, prinsip anjing penjaga
(watchdog) tengah terancam dalam jurnalisme dewasa ini oleh penggunaannya yang
berlebihan dan oleh peran penjaga palsu yang lebih ditujukan untuk menyajikan
sensasi ketimbang pelayanan publik. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 143).
Upaya-upaya
awal kerja investigatif ini menjadi salah satu alasan pers diberi kebebasan
secara konstitusional. Dalam prosesnya mereka mengukuhkan reportase
investigatif sebagi salah satu prinsip paling dini yang memisahkan jurnalisme
dari cara komunikasi lain dengan publik. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 143-144).
6.
Jurnalisme Sebagai Forum Publik
Elemen jurnalisme keenam adalah “Jurnalisme harus menghadirkan
sebuah forum untuk kritik dan komentar publik.” Insiden shearer mengisyaratkan
bahwa sekalipun teknologi baru telah membuat forum menguat, dengan bertambahnya
kecepatan dan gerakan, makin meningkat pula kekuatan untuk memutar balikan,
menyesatkan, dan mengalahkan fungsi lain dari pers bebas. (Kovach &
Rosenstiel, 2003: 173) Kapasitas penciptaan forum ini begitu menyebar sehingga
memberi informasi tentang hampir semua aspek kerja jurnalistik, dimulai dari
laporan awal yang didalamnya wartawan mengingatkan publik akan suatu peristiwa
atau kondisi di komunitas. Semua bentuk medium yang dipakai wartawan
sehari-hari bisa berfungsi untuk menciptakan forum di mana publik diingatkan
akan masalahmasalah penting mereka sedemikian rupa sehingga mendorong warga
untuk membuat penilaian dan mengambil sikap. Fungsi forum pers dapat
menghasilkan demokrasi bahkan di negara besar serta beragam. Caranya, dengan
mendorong sesuatu yang di nilai sebagai dasar bangunan demokrasi-kompromi, kompromikompromi.
(Kovach & Rosenstiel, 2003: 174).
Maka, jurnalisme harus menyediakan sebuah forum untuk kritik dan
kompromi publik. Diskusi publik harus dibangun di atas prinsip-prinsip yang
sama sebagaimana hal lain dalam jurnalisme kejujuran, fakta, dan verifikasi.
Forum yang tak punya sikap hormat pada fakta akan gagal memberi informasi.
Forum publik tersebut harus menyertakan kesepakatan dalam banyak hal, yang diyakini
oleh sebagian besar publik, dan sebagai jalan keluar dari masalah masyarakat.
(Kovach & Rosenstiel, 2003: 175).
7.
Menarik dan Relevan
Elemen
jurnalisme ketujuh adalah “Wartawan harus membuat hal yang penting menjadi
menarik dan relevan.” Tugas wartawan adalah menemukan cara membuat hal-hal yang
penting menjadi menarik unutk setiap cerita, dan menemukan campuran yang tepat
dari yang serius dan kurang serius yang ada dalam laporan berita pada hari
manapun. Jurnalisme adalah mendongeng dengan sebuah tujuan. Tujuannya adalah
menyediakan informasi yang dibutuhkan orang dalam memahami dunia. Tantangan
pertama adalah menemukan informasi yang mereka butuhkan untuk menjalani hidup
mereka. Kedua, membuatnya bermakna, relevan, dan enak disimak. (Kovach &
Rosenstiel, 2003: 191-192).
Tanggung
jawab wartawan bukan sekedar menyediakan informasi, tapi menghadirkannya
sedemikian rupa sehingga orang tertarik untuk menyimak. Menulis berita dengan
baik di luar bangunan piramida terbalik membutuhkan waktu. Yang perlu dilakukan
adalah latihan strategis yang melibatkan lebih dari sekadar menjejalkan fakta
ke dalam kalimat pemberitahuan pendek. Dan waktu adalah kemewahan yang dirasa
kian kurang saja dipunyai wartawan saat ini. (Kovach & Rosenstiel, 2003:
192-193).
Bukti
memperlihatkan bahwa menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak
dilihat akan gagal sebagai strategi bisnis jurnalisme jangka panjang. Dengan
alasan, problem pertama adalah bahwa jika hanya menyuapi orang dengan masalah
sepele dan hiburan, akan memudarkan selera dan pengharapan sejumlah orang
terhadap sesuatu yang lain. problem jangka panjang kedua dengan strategi
infotainment adalah hal ini menghancurkan otoritas organisasi berita untuk
menyampaikan berita yang lebih serius dan menjauhkan audiens yang
menginginkannya. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 198).
8.
Jadikan Berita Komprehensif dan Proporsional
Elemen
jurnalisme kedelapan adalah “Wartawan harus menjaga berita dalam proporsi dan
menjadikanya komperhensif.” Jurnalisme adalah kartografi modern. Ia
menghasilkan sebuah peta bagi warga untuk mengambil keputusan tentang kehidupan
mereka sendiri. Itulah manfaat dan alasan ekonomi kehadiran jurnalisme. (Kovach
& Rosenstiel, 2003: 212-213).
Konsep
kartografi ini membantu menjelaskan apa yang menjadi tanggung jawab dan liputan
jurnalistik. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme bergantung kepada
kelengkapan dan proporsional. Wartawan yang menghabiskan waktu untuk pengadilan
sensasional atau skandal selebritas dengan tidak sewajarnya. Wartawan yang
menulis apa “ia yakin hal ini benar”, tanpa sungguh-sungguh mengecek terlebih dahulu,
layaknya sama dengan seniman yang mengambil monster laut di ujung jauh dunia
baru. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 213).
Mengumpamakan
jurnalisme sebagai pembuatan peta membantu kita melihat bahwa proporsi dan
komprehensivitas adalah kunci akurasi. Hal ini tak hanya berlaku pada berita.
Sebuah halaman depan yang lucu dan menarik tapi tak mengandung apapun yang
signifikan adalah sebuah pemutarbalikan. Pada saat yang sama, berita yang hanya
berisi hal serius dan penting, tanpa sesuatu yang ringan atau manusiawi,
sama-sama tak seimbang. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 213).
9.
Wartawan Punya Tanggung Jawab pada Nurani
Elemen
jurnalisme kesembilan adalah “Wartawan punya kewajiban terhadap nurani.” Setiap
wartawan dari redaksi hingga dewan direksi harus punya rasa etika dan tanggung
jawab personal, sebuah panduan moral. Terlebih tanggung jawab untuk
mengutarakan sekuat-kuatnya nurani mereka dan membiarkan yang lain melakukan
hal yang serupa. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 235-236).
Halangan
yang tak terhitung banyaknya menyulitkan memproduksi berita yang akurat, adil,
imbang, berfokus pada warga, berpikiran independen, dan berani. Namun upaya ini
padam dengan sendirinya tanpa ada atmosfer terbuka yang memungkinkan orang
untuk menentang asumsi, persepsi, dan prasangka orang lain. Hanya di sebuah
ruang redaksi di mana semua orang bisa membawa pandangan mereka yang beragam
yang mampu menghasilkan berita yang punya kesempatan untuk mengantisipasi
secara akurat dan mencerminkan kian beragamnya perspektif dan kebutuhan
Amerika. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 236).
Ruang
redaksi bahkan condong menjadi kediktatoran yang teratur. Seseorang yang berada
di rantai komando teratas harus membuat keputusan akhir. Jika tidak begitu,
kebanyakan organisasi suratkabar besar, media online, atau stasiun televisi
tidak bisa memenuhi tenggat waktunya. Sebagai tambahan ada kecendrungan di
redaksi modern untuk menciptakan budaya korporasi tunggal saat bagian bisnis
dan berita kian banyak bekerja dalam format tim. Namun sebuah budaya tunggal
redaksi berlawanan dengan prinsip nurani yang darinya mengalir nilai-nilai lain
seperti akurasi, komitmen, dan keberadaan intelektualitas yang dibutuhkan untuk
meliput komunitas-komunitas kita. (Kovach & Rosenstiel, 2003: 238).
Sumber :
1.
https://www.romelteamedia.com/2017/02/sembilan-elemen-jurnalisme-pedoman.html
2.
Yanna Rosari. 2018. “Persepsi Wartawan Harian Waspada
Terhadap Sembilan Elemen Jurnalisme (Bill Kovach dan Rosenstiel) (Studi
Deskriptif Kualitatif Mengenai Persepsi Wartawan Harian Waspada Terhadap
Sembilan Elemen Jurnalisme)”. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Sumatera Utara.
Komentar
Posting Komentar